Permasalahan sosial ekonomi yang selalu timbul, banjir, krisis energi, pemanasan global, minimnya air bersih, keterbatasan lahan, kepadatan penduduk yang tinggi, serta berkurangnya ruang terbuka hijau—menjadi bahan perbincangan tata ruang di kota-kota besar yang tidak dirancang dengan baik.

Kondisi tersebut terjadi ketika sistem mekanisme perencanaan kota, perangkat hukum, dan kebijakan politik, tidak bisa mengatasi berbagai permasalahan ruang tinggal di Ibukota. Di samping itu, pemerintah pun tidak mampu menyediakan fasilitas ruang tinggal yang memadai. Sedangkan Ibukota Jakarta, selalu terus tumbuh dan berkembang tanpa arahan yang jelas.

Permasalahan itu seolah-olah tidak pernah berhenti tanpa ada solusi kongkrit dari pemerintah. Ironis jika kebutuhan dan fasilitas ruang tinggal kita tak bisa dipenuhi oleh pemerintah. Seperti  kawasan pemukiman kumuh di sekitar bantaran kali Ciliwung.

Keberadaan sungai Ciliwung sangat penting bagi kehidupan kota Jakarta. Sayangnya, keberadaan sungai Ciliwung yang tidak sehat tidak membuat warga Jakarta sadar untuk merawat kesehatan sungai tersebut. Faktor manusia  merupakan sumber permasalahan kerusakan sungai. Mulai dari penyempitan bantaran sungai, pencemaran sampah, pengendapan, dan pemukiman kumuh. Semuanya merupakan dampak dari aktifitas manusia.

Pembahasan masalah ini semoga dapat membuka kesadaran masyarakat, dan pemerintah untuk menciptakan kerja sama yang berksinambungan akan pentingnya perawatan dan pemeliharaan sungai Ciliwung sebagai urat nadi kota Jakarta.

Kemiringan atap sebagai pengarah air hujan ke bak pengolahan dan penampungan, sehingga air hujan dapat dimanfaatkan sebagai air penyiram kloset, penyiram tanaman, dan mandi.

Pemanfaatan material bekas dapat digunakan pada dinding bangunan sebagai sekat berpori yang berguna untuk pencahayaan dan penghawaan alami.

Sistem rumah panggung dan hijauan pada bantaran sungai bertujuan menghindari pengerusakan lingkungan pada daerah bantaran sungai, serta sebagai perbaikan resapan alami pada tanah.

Arsitek menawarkan dinding berpori sebagai rongga penghawaan dan pencahayaan alami dengan menggunakan material bambu sebagai lokalitas. Di samping itu, adanya inovasi pengerasan berpori sebagai  media resapan alami pada tanah.

Arsitek: Pramudya Architect

Principal Architect: Hengky Pramudya ST

Proyek: Sayembara Perancangan Rumah Urban Brawijaya

Status: Juara 2

Juri: M Ridwan Kamil, Popo Danes, dan Ary Indra

Related posts:

  1. Mewaspadai Gas Radon di Rumah Kita
  2. Ekspresi Rumah Origami di Lahan Berkontur: Tampil Modern, Clear dan Simpel dengan Efek Luas
  3. Rumah Medijavanean, Bersuasana Alami, Open Space, Perpaduan Desain Mediterania dan Jawa Nan Cantik
  4. Olahraga, Rekreasi, dan Belanja Berpadu Menjadi Satu
  5. Suasana Dramatis Rumah di Atas Air