Kesederhanaan gadis-gadis desa, ditumpahkan pelukis Djoewarso MS melalui gaya impresionisnya yang khas. Dengan bentuk objek lukisan yang ramping, warna dominan hijau dan gerak, Djoewarso berusaha meraih kesan alami dan sederhana dari lukisan-lukisannya. Menurut Merwan Yusuf, seorang kurator, kesan pancaran segar terlihat dari alam dan model-model karya pelukis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah pada  7 Juli 1949 ini.

Sosok wanita, si jelita dari pedesaan yang akan digunakan sebagai bahasa plastis dari sebuah keindahan dan kecantikan yang belum disiasati dengan tepung dan cat di wajahnya itulah yang sangat menggelitiknya untuk diabadikan. Ia mengawinkan alam yang segar dan sahdu itu dengan keberadaan si jelita dari desa yang terus-menerus dijadikan elemen estetik dari karyanya hingga detik ini.

Setting pedesaan selalu menyertai model-model yang tampil dengan wajah yang damai dan jauh dari agresifitas dan bujukan terhadap seksualitas yang berlebihan. Wanita-wanita pedesaan itu menyodorkan sebuah keindahan natural yang masih mau membiarkan rambutnya yang lebat dan panjang terurai lepas, seperti lazimnya ibu-ibu kita di waktu yang lalu, masih berpegang pada sebuah motto bahwa rambut adalah mahkota wanita. Sebab itulah, helaian rambut kepala wanita saat itu, menjadi sangat terawat dan menjadi sebuah kebanggaan.

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Teknologi Mekanisasi Hasil Pertanian (FATEMETA) ini memilih bentuk perpanjangan tubuh pada objek-objek lukisannya. ”Ini bentuk elongation,” katanya. Hasilnya,  bentuk tubuh wanita-wanita yang dia lukis selalu tinggi dan ramping dengan rambut panjang terurai. Kendati begitu, Djoewarso mengatakan, tetap akan berproses untuk menghasilkan style yang lebih khas dari profil gadis Indonesia.

Kalaulah boleh dikatakan, bentuk realis pada Djoewarso sesungguhnya masih kentara. ”Ada juga nuansa impresi dari lukisanku. Lukisan perempuan yang lebih ditonjolkan, terutama pada garis dan warna, ditambah penekanan dan sapuan pada bidang tertentu,” katanya.

Djoewarso terkesan dengan kehidupan gadis desa dengan alamnya yang asli. Dia pernah tertarik pada kecantikan alamiah gadis yang tinggal di lembah Gunung Burangrang, Jawa Barat. Kecintaannya pada alam yang masih asli dan kecantikan gadis di pedesaan dapat dinikmati pada Lima Gadis Desa (2008), Tiga Gadis & Kupu Kupu (2006), atau pada lukisan Dua Gadis Desa (2005).

Femininitas dan kelentikan jemari wanita dengan kebaya dan tubuh ramping, menurut  Merwan Yusuf, terasa kental dalam lukisannya Kebaya Biru (2004) dan Titik Terang (2004). Femininitas kerap dimunculkan dalam profil gadis desa dengan rambut terurai, tanpa aksesories. Rambut perempuan sangat menarik perhatiannya, yang terlihat dalam lukisan Dua Gadis & Alamanda (2002),  Sinergie (2001), dan pada hampir semua lukisannya.

Sri Warso, pengamat lukisan, juga pernah melontarkan tanggapannya soal karya Djoewarso. Bagi Sri Warso, yang nampak dalam karya pelukis ini adalah kecenderungan untuk melukis manusia dalam pose yang bergerak atau melakukan aktivitas, termasuk ketika sedang dalam menari, menggesek musik, kegiatan pasar, dan wanita berjalan. Bentuk realistis dari seni realisme, telaten juga dalam mengolah anatomi figur secara mendetail. Gerak juga terlihat pada karya lukisannya, seperti pada Buluh Perindu (2000) dan Kipas Akar Wangi (2005), Bidadari Kecil (2008) atau Tiga Gadis & Kupu Kupu (2006).

Dalam lukisan Djoewarso, terlihat jelas nuansa alam. Sekalipun tak selalu berupa aura dan semesta pegunungan atau alam desa yang kental dan realis. Latar yang dipilih dengan warna hijau atau biru halus kerap memunculkan kesan lingkungan alam tersendiri dalam lukisannya. Lingkungan tak digarap Djoewarso secara mendetail. Ada daun, ada bunga, namun bukan panorama yang hadir dengan utuh dan lengkap. ”Jelas tentang kembang. Yang mendukung adalah alamnya, desa. Walaupun bisa saja dibuat dengan latar tak ada batas, tak ada posisi buat objek untuk berdiri,” katanya.

Tentang warna, Djoewarso berkomentar bahwa kadang warna dan bentuk objek saling berebut untuk keluar dalam imajinasinya. ”Bisa warna yang sangat mendesak dan bisa juga bentuk. Kekuatan itu lahir begitu saja tanpa aku rencanakan,” ujar Djoewarso.

Nyatanya, setelah menjalani proses hingga dua puluh tahun lebih, Djoewarso telah meyakini pilihannya. Ia, yang semula adalah seorang jurnalis, dengan sukarela meninggalkan profesi yang berkaitan dengan tulis-menulis itu dan kembali menekuni seni lukis. Keputusan ini sesungguhnya sempat mengejutkan banyak rekannya. Namun, Djoewarso tak surut langkah. Ia terus memantapkan prosesnya untuk berkarya.

”Sebenarnya, sejak SMA saya sudah mengadakan pameran lukisan,” ujarnya. Jadi sesungguhnya, Djoewarso sudah berkarya sejak tahun 1967. Namun baru pada Agustus 1990, dia mulai berpameran di Mitra Budaya, Jakarta. Untuk pameran tunggal, ia lakukan di Gedung Pertemuan Cempaka di Purwakarta, Hilton Executive Club Hotel dan Lobby Gallery Crowne Plaza, Jakarta. Secara bersama, Djoewarso pernah melakukan serangkaian pameran, di antaranya di Gallery Ramono Cinere, Jakarta.

Kini ia selain melukis, ia juga memiliki kepedulian terhadap para pelukis muda untuk saling berbagi pengalaman dan maju bersama. Beberapa pameran bersama ia gagas sebagai ajang memupuk kemahiran para pelukis muda.

PAMERAN LUKISAN TUNGGAL

1990 Di Mitra Budaya, Jakarta.

1994 Di Gedung Pertemuan Cempaka Purwakarta, Jawa Barat.

1998 “Warna Kehidupan” di Hilton Executive Club Hotel, Jakarta.

1999 “Kasih Sayang” di Lobby Crowne Plaza Hotel, Jakarta.

2000 “Kembang Desa” di Hilton Executive Club Hotel, Jakarta.

2004 “Imajinasi Indahnya Seni” di Artspace Galeri, Jakarta.

PAMERAN LUKISAN BERSAMA

1990 Bersama Jeihan Sukmantoro, Sam Bimbo, dan Aceng Arief, di Carita Krakatau Beach Hotel, Labuan, Jawa Barat.

1993 “Goresan Nuansa” di Gedung Menpora Senayan, Jakarta.

1993 Bersama Pelukis PASSRI DKI di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta.

1995 “Kenangan Kehidupan” di Gallery Asri, Jakarta Design Center (JDC), Jakarta.

1995 Pameran 22 Pelukis Indonesia kerja sama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dengan DPR MPR RI di Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta.

1996 “Ekspresi Ramadhan” di Gallery Linggar, Jakarta.

1997 “Expo 1997” di Malinda Art Gallery, Jakarta.

1997 “Jakarta-Lampung” di Kalianda Resort, Lampung Sumatera.

2002 “Face Beyond The Rainbow” di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

2003 “Ekspresi 8 Perupa” di Lobby WorldTrade Centre Building, Jakarta.

2004 “Sinergi” di Lobby Crowne Plaza Hotel, Jakarta.

2005 “Kemilau Nusantara” Lobby Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat.

2006 “Merah Kemenangan” di Executive Club-Sultan Hotel, Jakarta.

2007 “Sentuhan Kasih 2007” di Dandara Gallery, Jakarta.

2008 “Expressi 2 Pelukis” di Zeita Gallery, Kemang Utara, Jakarta.

2009 “The Soul of New Year” di The Sultan Hotel, Jakarta

2010 “Wajah Kampoeng Wisata” di Kampung Cina, Kota Wisata, Cibubur.

Related posts:

  1. Pelukis Laila Tifah: Potret Perempuan Yang Berjuang
  2. Interpretasi Model Realis Kontemporer Karya Pelukis Joni K Soaloon
  3. Pelukis Taufik Prawoto: Ketika Distorsi Menyelisik Esensi
  4. Pelukis Paul Hendro: Teknik Realisme Fotografis dalam Manifestasi Surealis
  5. Rona Karakter Interior Natural: Apartemen Jadi Homy dan Kasual, Dominasi Kayu Cipta Suasana Santai Menenangkan